Sabtu, 16 Maret 2013

TUGAS PSIKOTERAPI

TERAPI PSIKOANALISA

Pendirinya adalah Sigmund Freud yang lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia, di perbatasan Austria-Hongaria dan meninggal pada tanggal 23 September 1939 di London. Freud mengembangkan sistem psikoanalisanya ketika dia meneliti gangguan-gangguan ringan yang menjurusp ada penyakit kejiwaan seperti histeria dan neurosis kompulsi. Ia mencoba untuk memperbaiki metode-metode lama dengan cara meneliti sejarah kehidupan pasien dan mendapati bahwa gejala-gejala gangguan yang tampaknya tidak bisa dijelaskan sebenarnya mempunyai makna tertentu dan bahwa manifestasi-manifestasinya gangguan itu bukan fenomena yang terjadi secara serampangan tetapi memiliki keteraturan-keteraturan tertentu.
Psikoanalisis adalah suatu sistem dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud dan menjadi dasar dalam teori psikologi yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotik. Psikoanalisis memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik. Psikoanalisa selalu dapat menunjukkan bahwa gangguan-gangguan ini terkait dengan masalah atau konflik tertentu yang sedang dihadapi penderita. Psikoanalisis sebagai teori psikoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan yang mengenai hal-hal yang traumatik dari pengalaman seksual pada masa kecil. Freud mengembangkan konsep struktur mind di atas dengan mengembangkan ‘mind apparatus’, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego.
  • Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.
  • Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral.
  • Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntuta moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah.
Awalnya digunakan teknik hipnosis, namun tidak semua orang mudah untuk terhipnosis, maka Freud melakukan teknik asosiasi bebas. Dengan asosiasi bebas, pasien bebas untuk mengemukakan segala hal yang ingin dikemukakan termasuk yang tadinya ditekan ke alam bawah sadarnya tanpa dihambat atau dikritik. Teknik dasar untuk melakukan psikoanalisis ialah dengan meminta pasien berbaring di dipan khusus dan psikoanalis duduk di belakangnya, jadi posisi pasien menghadap ke arah lain. Lalu pasien diminta untuk mengemukakan apa yang muncul dalam pikirannya dengan bebas. Psikoanalis pada dasarnya mendengarkan tanpa menilai atau memberi kritik dan memperlihatkan sikap ingin mengetahui lebih banyak tentang pasien. Namun, pada saat tertentu psikoanalis memotong asosiasi bebas yang sedang dikemukakan pasien bilamana dianggap penting untuk memperjelas hubungan dengan mimpi yang dialami. Proses selanjutnya yang berlangsung adalah tahap pembukaan melalui wawancara yang dilakukan secara tatap muka. Dari proses yang berlangsung hal yang penting ialah masalah transferens yaitu bentuk ingatan kejadian-kejadian yang telah dialami dan diulang kembali dalam keadaan sekarang atau yang akan datang. Pasien menghubungkan hambatan yang dialami dengan konflik yang terjadi di bawah sadar mengenai harapan yang penting dalam hidupnya. Pasien harus idealis menghadapi hal-hal yang diinginkannya, namun harus menghadapi kenyataannya pula. Terapi psikonalisa dapat digunakan dalam masalah kehidupan sehari-hari, seperti :
1. kesalahan dalam mengingat nama orang
2. kesalahan dalam mengingat kata-kata asing
3. kesalahan dalam mengingat nama dan urutan kata
4. masa kanak-kanak dan ingatan tersembunyi
5. kesalahan dalam baca dan mulis
6. kesalahan dalam bicara
7. lupa terhadap kesan dan niatan
8. salah dalam bertindak
9. salah dalam penyajian fakta
10.kombinasi kesalahan tindakan
11. determinisme, kebetulan, tahayul
12. tindakan simptomatis bersifat kebetulan

Kelemahan dari terapi psikoanalisa adalah  
  • Pandangan yang terlalu merendahkan martabat kemanusiaan
  • Terlalu meminimalkan rasional 
  • Perilaku ditentukan oleh energi psikis adalah sesuatu yang meragukan 
  • Penyembuhan dan psikianalisis terlalu bersifat rasional dalam pendekatannya
  • Data penelitian kurang banyak mendukung system psikoanalisis
  • Terlalu banyak menekankan kepada pengalaman masa lalu, hal ini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individu berkurang
Sedangkan kelebihannya adalah  
  • Adanya motivasi yang tidak selamanya disadari 
  • Teori kepribadian dan teknik psikoterapi 
  • Pentingnya masa kanak – kanak dalam perkembangan kepribadian
  • Model penggunaan interview sebagai alat terapi 
  • Pentingnya sikap non moral pada terapis Adanya penyesuaian antara teori dan teknik
  • Adanya penyesuaian antara teori dan teknik
sumber  :
Gunarsa, Singgih. (1996). Konseling dan psikoterapi. Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia.
M, Seruri dan A. Santoso. (2005). (cetakan pertama). Psikopatologi dalam kehidupan sehari-hari. Jakarta : Pedati.
http://rumahbelajarpsikologi.com
http://vievie-28.web.id

Rabu, 16 Januari 2013

16 Januari 2013

Aku tidak menyesal ketika aku dan dia harus kembali seperti awal lagi dimana kita saling mengenal, namun tiada perasaan diantara kita.
Aku tidak menyesal ketika dia meminta aku untuk menjadi seseorang dalam kehidupannya, namun ia sia-siakan begitu saja.
Aku tidak menyesal ketika dia tidak peduli terhadapku sebagaimana aku yang selalu peduli terhadapnya.
Aku tidak menyesal ketika semua hal yang aku lakukan salah dimatanya karena aku melakukannya dengan tulus dan ikhlas

Bagaimana mungkin, seseorang yang kita banggakan dapat menggoreskan luka di hati?
Bagaimana mungkin aku membenci dia yang pernah mengisi hari-hariku?
Bagaimana mungkin aku tidak peduli terhadapnya, walaupun aku tidak menunjukkannya secara langsung?
Dan bagaimana mungkin aku bisa bertahan melihat dia bersama dengan yang lain?

 Awalnya aku memang tidak bisa menerima semua ini
Aku sakit
Aku marah
Aku kecewa

Namun, hari berganti hari
Aku menyadari akan semua yang terjadi
Semua yang telah membuatku mengerti 
Semua yang telah membuatku merasa semakin berarti 

Selasa, 25 Desember 2012

Akulturasi Psikologis dan Multikulturalisme (2)

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dengan tingkat keanekaragaman yang sangat kompleks. Masyarakat dengan berbagai keanekaragaman tersebut dikenal dengan istilah mayarakat multikultural. Bila kita mengenal masyarakat sebagai sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka mampu mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu (Linton), maka konsep masyarakat tersebut jika digabungkan dengan multikurtural memiliki makna yang sangat luas dan diperlukan pemahaman yang mendalam untuk dapat mengerti apa sebenarnya masyarakat multikultural itu. Multikultural dapat diartikan sebagai keragaman atau perbedaan terhadap suatu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Sehingga masyarakat multikultural dapat diartikan sebagai sekelompok manusia yang tinggal dan hidup menetap di suatu tempat yang memiliki kebudayaan dan ciri khas tersendiri yang mampu membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Setiap masyarakat akan menghasilkan kebudayaannya masing-masing yang akan menjadi ciri khas bagi masyarakat tersebut. Dari sinilah muncul istilah multikulturalisme. Banyak definisi mengenai multikulturalisme, diantaranya multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan- yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahamni sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam “politics of recognition” (Azyumardi Azra, 2007). Lawrence Blum mengungkapkan bahwa multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain. Berbagai pengertian mengenai multikulturalisme tersebut dapat ddisimpulkan bahwa inti dari multikulturalisme adalah mengenai penerimaan dan penghargaan terhadap suatu kebudayaan, baik kebudayaan sendiri maupun kebudayaan orang lain. Setiap orang ditekankan untuk saling menghargai dan menghormati setiap kebudayaan yang ada di masyarakat. Apapun bentuk suatu kebudayaan harus dapat diterima oleh setiap orang tanpa membeda-bedakan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana stiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam. Dalam konsep multikulturalisme, terdapat kaitan yang erat bagi pembentukan masyarakat yang berlandaskan bhineka tunggal ika serta mewujudkan suatu kebudayaan nasional yang menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai hambatan yang menghalangi terbentuknya multikulturalisme di masyarakat. Multikultural dapat terjadi di Indonesia karena: 1. Letak geografis indonesia 2. perkawinan campur 3. iklim.
Tidak sedikit orang yang menikah dengan orang luar (bule), biasnya disebut dengan perkawinan campuran. Perkawinan campuran adalah perkawinan yang dilakukan oleh 2 negara yang berbeda dan pastinya budaya yang berbeda pula. Perkawinan beda negara merupakan hal yang sudah umum di Indonesia dan hal tersebut bukan hal yang mudah ketika kita harus mencampurkan kebudayaan yang berbeda. Masing-masing harus bisa beradaptasi dengan kebudayaan yang baru, harus saling mengerti, dan mau belajar, serta menerima segala konsekuensi dari keputusannya untuk menikah dengan orang luar.
Jadi, perkawinan campuran berarti menyatukan 2 kebudayaan yang berbeda dari masing-masing individu yang nantinya akan membentuk akulturasi dimana ketika sudah menikah mereka harus beradaptasi dengan kebudayaan yang sebelumnya tidak dikenalnya (bisa dibilang baru). Yang terpenting adalah adanya toleransi satu sama lain.

sumber  :  http://id.wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme

Akulturasi Psikologis dan Multikulturalisme (1)


Pengertian Akulturasi Psikologis
Akulturasi proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayan asing itu lambat laun dapat diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnnya kebudayaan itu sendiri. Sebagai contoh, masyarakat pendatang berkomunikasi dengan masyarakat setempat dalam acara syukuran, secara tidak langsung masyarakat pendatang berkomunikasi berdasarkan kebudayaan tertentu milik mereka untuk menjalin kerja sama atau mempengaruhi kebudayaan setempat tanpa menghilangkan kebudayaan setempat. Ketika ada kebudayaan masuk, kita dapat menerimanya dan yang terjadi adalah akulturasi (bercampurnya kebudayaan yang satu dengan yang lain dan membentuk suatu kebudayaan baru tanpa menghilangkan kebudayaan yang lama). Akulturasi dapat terjadi karena ada daya tarik yang diberikan oleh kebudayaan baru tersebut, yang masuk ke daerah tempat  tinggal, sehingga menimbulkan keingintahuan masyarakat mengenai budaya yang baru, serta mempelajarinya. Secara psikologis, budaya memang sangat melekat pada suatu individu dan merupakan hal yang sudah menetap karena sejak kita dilahirkan, kita terbiasa untuk mengikuti budaya dimana kita tinggal. Ketika ada budaya baru yang masuk, secara psikologis masyarakat "kaget". Namun, dengan adanya akulturasi, masyarakat harus beradaptasi dengan kebudayaan yang baru tapi tetap tudak melupakan kebudayaan lamanya tersebut. 

Multikulturalisme 
Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
Multikulturalisme berhubungan dengan kebudayaan dan kemungkinan konsepnya dibatasi dengan muatan nilai atau memiliki kepentingan tertentu.
  • “Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007)
  • Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).
  • Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174)
  • Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000)
  • Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar)
Jenis Multikulturalisme
Berbagaai macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktik multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian Parekh):
  1. Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
  2. Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.
  3. Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis.
  4. Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka. sebagai mitra sejajar. 
  5. Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.
    Sumber  :
    http://www.pengertiandefinisi.com/2011/05/pengertian-akulturasi.html
    http://id.wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme




    Jumat, 02 November 2012

    Hubungan Akulturasi dengan Relasi Interkultural




    Pengertian Akulturasi
    Akulturasi merupakan proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayan asing itu lambat laun dapat diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnnya kebudayaan itu sendiri. Sebagai contoh, masyarakat pendatang berkomunikasi dengan masyarakat setempat dalam acara syukuran, secara tidak langsung masyarakat pendatang berkomunikasi berdasarkan kebudayaan tertentu milik mereka untuk menjalin kerja sama atau mempengaruhi kebudayaan setempat tanpa menghilangkan kebudayaan setempat. Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Misalnya, bila sekelompok imigran kemudian berdiam di Amerika Serikat (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah.

    Pengertian Relasi Interkultural
    Relasi Interkultural merupakan hubungan yang terjadi melalui suatu komunikasi antar budaya yang berbeda. Menurut Stewart L. Tubbs, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi). Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi. Sedangkan Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Dan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.
    Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok. Selanjutnya komunikasi antarbudaya itu dilakukan:
    1. Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan.
    2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang terlibat dalam  komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama.
    3. Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai  pengaruh terhadap perilaku kita.
    4. Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan  mengidentifikasinya dengan berbagai cara.

    Hubungan Akulturasi dengan Relasi Interkultural
    Dengan adanya akulturasi berarti masyarakat dapat mengenal berbagai macam kebudayaan yang berbdeda-beda. Sehingga terciptalah suatu hubungan, yaitu relasi internalkultural yang terjadi seperti antar suku, ras, etnis, agama, dan negara. Hal ini dapat terjadi melalui proses komunikasi dengan bahasa yang dapat dimengerti satu sama lain.Contohnya ketika Indonesia mengadakan kerjasama dengan negara lain maka dari situ kita dapat bertukar pikiran, mengeluarkan pendapat, serta menambah pengetahuan. Ketika orang Barat datang ke Indonesia, kita dapat memperkenalkan kebudayaan kita, misalkan dengan menunjukkan berbagai macam candi, lalu diajari pula menggunakan bahasa Indonesia, tentunya dengan baik dan benar, memperkenalkan makanan Indonesia begitu pula dengan sebaliknya. Kita dapat belajar bahasa Inggris darinya, mempraktekkan ilmu yang sudah kita dapat dengan bicara menggunakan bahasa Inggris. 


    Sumber : 

    http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_antarbudaya
    http://www.pengertiandefinisi.com/2011/05/pengertian-akulturasi.html



    Selasa, 09 Oktober 2012

    Transmisi Budaya dan Biologis serta Awal Perkembangan dan Pengasuhan



    NAMA            : FIONA CHANDRADEWI
    KELAS            : 3PA01
    NPM               : 12510789

    Transmisi Budaya dan Biologis serta Awal Perkembangan dan Pengasuhan

    Mengenai kebudayaan sebenarnya sudah kita pelajari sejak masih di dalam kandungan. Setiap daerah memiliki kebudayaan masing-masing dan ketika berkumpul di satu pulau dan negara, mereka membawa kebudayaannya masing-masing. Di samping itu, ada juga kebudayaan yang berasal dari luar. Dan dari itu, kita dapat mempelajari dan memahami berbagai macam  kebudayaan melalui transmisi budaya. Beberapa bentuk transmisi budaya, antara lain :

    1.      Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. Berikut merupakan proses sosialisasi menurut beberapa tokoh :
    a.   George Herbert Mead
    George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan menlalui tahap-tahap sebagai berikut.
    Tahap persiapan (Preparatory Stage)
    Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Contoh: Kata "makan" yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan "mam". Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
    Tahap meniru (Play Stage)
    Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang anma diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)
    Tahap siap bertindak (Game Stage)
    Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.
    Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)
    Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

    b. Menurut Charles H. Cooley

    Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Menurut dia, Konsep Diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.

    - Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.

    Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena  sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.

    - Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita.

    Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.

    - Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut.

    Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.

    Ketiga tahapan di atas berkaitan erat dengan teori labeling, dimana seseorang akan berusaha memainkan peran sosial sesuai dengan apa penilaian orang terhadapnya. Jika seorang anak dicap "nakal", maka ada kemungkinan ia akan memainkan peran sebagai "anak nakal" sesuai dengan penilaian orang terhadapnya, walaupun penilaian itu belum tentu kebenarannya.

    2.      Enkulturasi adalah Proses penerusan kebudayaan dari generasi yang satu kepada generasi berikutnya selama hidup seseorang individu dimulai dari insttitusi keluarga terutama tokoh ibu. Individu berkembang dengan ketertarikan terhadap objek lain selain dirinya. Dengan pemahaman situasi yang ditanamkan orang-orang dewasa disekitarnya menurut kebudayaanya tempat individu tersebut tumbuh dewasa berkembangnya orientasi yang bersifat lebih bersifat ruang, waktu, dan normatif. Menurut Ruth Benedict suatu kepribadian dianggap bersifat normal apabila sesuai dengan tipe kepribadian yang dominan, sedangkan tipe kepribadian yang sama jika sesuai dengan tipe kepribadian dominan akan dianggap abnormal. Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur ditransmisikan dari generasi satu ke generasi selanjutnya. Kita mempelajari budaya, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan dengan gen. Orang tua, teman-teman, lembaga sekolah, dan pemerintahan adalah guru utama di bidang kultur. Agar budaya terus berkembang, proses adaptasi perlu dilakukan. Paradigma yang berkembang adalah budaya itu dinamis dan merupakan hasil proses belajar. sehingga budaya suatu masyarakat tidak hadir dengan sendirinya. Proses belajar dan mempelajari budaya sendiri dalam masyarakat itu dinamakan Enkulturasi dan enkulturasi terjadi melalui mereka yang menyebabkan budaya masyarakat tertentu bergerak dinamis mengikuti perkembangan jaman.
    3.           Akulturasi
    Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur diperbaiki dan dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur yang lain. Sebagai contoh, apabila ada sekelompok imigran yang kemudiam menetap di Amerika Serikat (kultur tan rumah), maka kultur mereka sendiri akan dipngaruhi oleh kultur Tuan rumah ini. Lama kelamaan, nilai, dan cara berperilaku serta kepercayaan dari kultur tuan rumah ini akan menjadi bagian dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah. Sebuah masyarakat yang cenderung sulit menerima hal hal baru dalam masyarakat sulit mempertahankan budaya lama yang sudah tidak relevan lagi untuk disebut sebagai akulturasi. Sebaliknya sebuah masyarakat yang cenderung sulit menerima hal hal baru dalam masyarakat sulit mempertahankan budaya lama yang sudah tidak relevan lagi untuk disebut sebagai akulturasi.

    Perkembangan budaya sangat mempengaruhi terhadap pola asuh serta perkembangan anak. Pola pengasuhan anak dapat dipengaruhi oleh budaya yang berasal dari dalam maupun yang berasal dari luar. Kebudayaan yang berasal dari dalam sebagai contohnya orangtua yang berasal dari  Jawa akan mendidik anaknya dengan penuh kelembutan, sopan santun, cara bicaranya tidak keras dan penuh dengan hormat. Seiring berjalannya waktu, banyak kebudayaan luar (barat) yang masuk ke negara Indonesia telah membawa dampak yang sangat besar bagi masyarakat. Budaya kita sebagai orang timur dengan budaya barat sangatlah berbeda. Begitu juga dengan pola asuh yang diterapkan orangtua kepada anaknya. Orang timur menerapkan pola asuh dengan penuh kasih sayang, mengajarkan anaknya untuk hormat kepada siapapun, mengajarkan cara berpakaian yang baik dan sopan, serta cara berbicara. Orangtua mengajarkan semua kepada anaknya agar anaknya tahu apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.boleh dilakukan. Sedangkan orang barat menerapkan pola asuh yang sangat berbeda, misalkan lebih mengutamakan diri sendiri atau lebih bersifat individualis dan juga memiliki kebebasan tapi tidak disertai dengan tanggung jawab. Ketika orang timur menikah  dengan orang barat itu berarti mereka membawa kebudayaannya masing-masing. Mereka harus menerapkan pola asuh yang benar agar perilaku anaknya sesuai dengan apa yang diharapkan dan itu harus dimulai melalui orangtua. Ketika mereka menerapkan budaya barat saja tanpa mengkombinasikan dengan budaya timur, si anak akan berperilaku sebagai orang barat tanpa tahu bagaimana kebudayaan timur itu. Maka dari itu, sekarang banyak anak-anak ataupun para remaja yang berperilaku  tidak sesuai dengan pola asuh yang sudah diterapkan sehingga nantinya membentuk suatu kepribadian. Hal itu terjadi karena besarnya pengaruh dari luar, seperti perempuan yang lebih banyak berpakaian rok mini, perempuan merokok, bertatoo, pria memakai anting. Hal yang seperti itu masih belum dapat diterima oleh budaya timur. Yang terpenting adalah bagaimana orangtua dapat menerapkan pola asuh yang baik sehingga anaknya menjadi pribadi yang baik pula.

    Sumber :
    http://id.shvoong.com/law-and-politics/family-law/2245698-enkulturasi-dan-akulturasi
    http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi

    Senin, 08 Oktober 2012

    TUGAS PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA



    NAMA : FIONA CHANDRADEWI
    KELAS : 3PA01
    NPM : 12510789
     
    Pengertian dan Tujuan dari Psikologi Lintas Budaya Serta Menjelaskan Hubungan Antara Psikologi Lintas Budaya Dengan Disiplin Ilmu Yang Lain
     
    Pengertian Psikologi Lintas Budaya
    Psikologi Lintas Budaya merupakan cabang ilmu psikologi yang mempelajari mengenai berbagai macam kebudayaan dari masing-masing suku bangsa serta kelompok etnis.
    Menurut Segall, Dasen dan Poortinga : psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya.
    Menurut Brislin, Lonner dan Thorndike : psikologi lintas budaya adalah kajian empiris mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku. Psikologi lintas budaya berkutat dengan kajian sistematis mengenai perilaku dan pengalaman sebagaimana pengalaman itu terjadi dalam budaya berbeda yang dipengaruhi budaya yang bersangkutan.
    Tujuan Psikologi Lintas Budaya
    Dapat mengetahui persamaan dan perbedaan masing-masing kebudayaan dari berbagai macam etnik dan asalnya. 
    Ruang Lingkup Psikologi Lintas Budaya
    Mempelajari peran budaya terhadap perilaku, pikiran dan juga emosi 
    Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan ilmu lainnya
    A. Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Sosiologi
    Dalam ilmu sosiologi ada istilah akulturasi, akulturasi merupakan proses dimana suatu kelompok manusia suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu dengan lambat-laun diterima dan dapat diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Kaitannya dengan psikologi lintas budaya yaitu bagaimana kelompok manusia  yang dihadapkan oleh kebudayaan lain yang dapat mengendalikan budaya asing  yang masuk sehingga budayanya sendiri tidak akan hilang. Unsur-unsur budaya asing yang diterima, tentunya terlebih dahulu mengalami proses pengolahan, sehingga bentuknya tidak asli lagi seperti semula. Misalnya sistem pendidikan di Indonesia untuk sebagian besar diambil dari unsur-unsur barat, akan tetapi sudah disesuaikan serta diolah sedemikian rupa, sehingga merupakan kebudayaan sendiri.
    B. Psikologi Lintas Budaya dengan Kepribadian
    Kepribadian merupakan konsep dasar psikologi yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Kepribadian mempengaruhi dan menjadi kerangka acuan dari pola pikir dan perilaku manusia, serta bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih nesar, yaitu budaya sebagai konstuk sosial.Menurut Roucek dan Warren, kepribadian adalah organisasi yang terdiri atas faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis sebagaimana digambarkan oleh bagan di bawah ini: Hal pertama yang menjadi perhatian dalam studi lintas budaya dan kepribadian adalah perbedaan diantara keberagaman budaya dalam memberi definisi kepribadian. Dalam literature-literatur Amerika umumnya kepribadian dipertimbangkan sebagai perilaku, kognitif dan predisposisi yang relatif abadi. Definisi lain menyatakan bahwa kepribadian adalah serangkaian karakteristik pemikiran, perasaan dan perilaku yang berbeda antara individu dan cenderung konsisten dalam setiap waktu dan kondisi. Ada dua aspek dalam definisi ini, yaitu kekhususan (distinctiveness) dan stablilitas serta konsistensi (stability and consistency). Semua definisi di atas menggambarkan bahwa kepribadian didasarkan pada stabilitas dan konsistensi di setiap konteks, situasi dan interaksi. Definisi tersebut diyakini dalam tradisi panjang oleh para psikolog Amerika dan Eropa yang sudah barang tentu mempengaruhi kerja ataupun penelitian mereka. Semua teori mulai dari psikoanalisa Freud, behavioral approach Skinner, hingga humanistic Maslow-Rogers meyakini bahwa kepribadian berlaku konsistan dan konsep-konsep mereka berlaku universal. Dalam budaya timur, asumsi stabilitas kepribadian sangatlah sulit diterima. Budaya timur melihat bahwa kepribadian adalah kontekstual (contextualization). Kepribadian bersifat lentur yang menyesuaikan dengan budaya dimana individu berada. Kepribadian cenderung berubah, menyesuaikan dengan konteks dan situasi.
    Perbedaan Psikologi Lintas Budaya dengan ilmu yang lain
    A.  Psikologi Lintas Budaya dengan Antropologi
    Psikologi Lintas Budaya dan Antropologi sebenarnya adalah ilmu yang sama-sama mempelajari mengenai suatu kebudayaan. Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial  yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lebih kompleks serta mempelajari kebudayaan secara detail yang mencakup 7 unsur menurut Koentjaraningrat, yaitu : sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan. Ketujuh unsur itulah yang nantinya akan membentuk budaya secara keseluruhan.
    B. Psikologi Lintas Budaya dengan Psikologi Indigenous
    Psikologi Indigenous memiliki sifat yang dinamis. Sifat dinamis berarti akan terus bergerak seiring dengan peradaban serta perubahan-perubahan dari jaman ke jaman dan juga kultur manusia yang ada didalamnya. Indigenous itu sendiri menitikberatkan kepada tingkah laku asli dari masyarakat Indonesia maupun masyarakat yang berasal dari luar tetapi menetap di Indonesia. Jadi arti dari psikologi indigenous adalah proses percampuran dari psikologi setempat dengan psikologi luar. Dan hubungannya dengan psikologi lintas budaya adalah untuk mengetahui tentang adat istiadat serta menambah ragam budaya yang ada di Indonesia.
    C. Psikologi Lintas Budaya dengan Psikologi Budaya
    Menurut Berry dan Dassen (1974) disebut "tujuan membawa dan menguji". Jadi intinya bahwa psikolog berusaha membawa hipostesis dan temuan mereka ke lingkungan budaya lain untuk menguji daya terapannya dalam kelompok manusia lain. Selain  itu tujuannya adalah menjelajahi budaya lain untuk menemukan variasi psikologis yang tidak dijumpai dalam pengalaman budaya seseorang yang memang terbatas. Jadi inti dari tujuan psikologi lintas budaya adalah mencari perbedaan serta persamaan fungsi secara psikologis dalam berbagai budaya.
    Artikel
    Perbedaan setiap manusia itu adalah nyata. Mulai dari gaya bicara, mode pakaian, latar belakang,dll. Dalam psikologi itu dinamakan individual differences. Apalagi di Indonesia ini yang memiliki agama, budaya, suku, ras, keadaan social yang berbeda-beda. Jika dikaitkan dengan kegiatan industri atau organisasi, maka menyatukan visi misi dan tujuan organisasi itu sendiri yang harus diutamakan. Menyatukan pemahaman dan pandangan, bekerja sama dan berkarya dari latar belakang yang berbeda, hal inilah yang harus dilakukan oleh para pemimpin untuk bisa menyatukan kepahaman agar tujuan dari organisas itu tercapai. Misalkan, dalam suatu organisasi ada orang Padang dan ada orang Jogja. Orang Padang terkenal dengan semangat kerjanya yang tinggi, tak mudah menyerah sementara itu orang Jogja terkenal dengan kerjanya yang lambat dan terkesan menunda-nunda. Itu perusahaan lintas budaya tetapi masih dalam satu negara. Perusahaan lintas budaya dengan perbedaan budaya antar negara lebih kompleks. Ini biasa terjadi dalam perusahaan yang sudah mengglobal. Pertanyaannya adalah apakah para karyawan yang berasal dari budaya yang berbeda-beda mulai dari suku, ras, etnis, bahkan antar negara bisa bekerja sama membangun perusahaan yang ditempati? Ataukah justru mereka bisa menjadi bumerang bagi perusahaan yang mereka tempati sendiri?
    Sumber :